Banyak Anak Jalanan Pengidap HIV/AIDS di Semarang Tidak Terdeteksi
Kasus HIV/AIDS di kalangan anak jalananan diduga jauh melebihi data yang terkumpul. Kehidupan yang bebas dan tidak terjangkaunya layanan kesehatan menjadi sebab penyebarluasan penyakit. Akibatnya, banyak anak jalanan yang mengidap HIV namun tidak menyadarinya.
_______________________________________________________________________
Kamis, 03 April 2008
Kasus HIV/AIDS anak jalanan
Banyak pengidap belum terdeteksi
SEMARANG – Seperti fenomena gunung es, kasus anak jalanan yang terinfeksi HIV/AIDS diperkirakan masih akan terus bertambah. Hal tersebut diungkapkan pembina Yayasan Wahana Bhakti Sejahtera, dr Budi Laksono, menyusul adanya temuan tiga anak jalanan di Semarang yang disinyalir terjangkit HIV.
”Kalau mengenai jumlah pastinya, saya belum tahu. Tapi, mengingat HIV/AIDS seperti fenomena gunung es, ditambah dengan perilaku anak jalanan yang serba bebas, memungkinkan adanya penambahan jumlah penderita yang belum teridentifikasi,” ujar dia, Kamis (3/4) pagi tadi.
Diungkapkan, kehidupan seks bebas di kalangan anak jalanan menjadi penyebab cepatnya penyebaran virus HIV/AIDS. Terlebih, kurangnya pemahaman mereka mengenai seks aman untuk menghindari timbulnya berbagai penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS.
Seringnya berganti-ganti pasangan, menurut dia, membuat rantai penularan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu sulit ditelusuri. Hal ini diperparah dengan kebijakan pemerintah dalam penanganan HIV/AIDS, di mana identitas ODHA (orang dengan HIV/AIDS) disembunyikan dan tidak boleh dipublikasikan.
”Bahkan, mungkin yang bersangkutan tidak mengetahui dirinya terinfeksi HIV/AIDS. Padahal, jika informasi tidak disampaikan, ODHA tersebut tidak mengetahui bahwa dia berpotensi untuk menularkan HIV/AIDS. Tidak adanya perbaikan pola hidup yang selama ini dijalani, membuat penularan HIV/AIDS tidak terkontrol. Jika persoalan seperti ini tidak segera ditangani, bisa dipastikan beberapa tahun mendatang akan terjadi ledakan kasus HIV/AIDS,” beber dr Budi.
Deteksi dini status HIV, kata dia, sebenarnya sangat bermanfaat, karena ODHA dapat mengikuti program pembinaan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun LSM peduli AIDS. Sehingga, ODHA bisa hidup normal seperti masyarakat umum, dan tidak menularkan penyakitnya pada keluarga maupun orang di sekitarnya.
“Meski HIV/AIDS sangat mematikan, tapi ODHA tetap bisa hidup sehat dengan penyakitnya. Misalnya saja, spinter Ben Johnson yang teridentifikasi HIV pada tahun 1990-an, namun sampai sekarang masih tetap hidup karena penyakitnya diketahui lebih awal,” jelas dr Budi.
Pendonor
Kebijakan pemerintah yang menyembunyikan identitas ODHA, dikeluhkan pula oleh Ketua PMI Cabang Kota Semarang, Drs Saman Kadarisman. Menurutnya, kebijakan tersebut justru dapat menghambat penanganan persoalan HIV/AIDS. Dia menunjuk contoh, adanya sejumlah darah pendonor yang diketahui reaktif HIV (dicurigai terinfeksi HIV), namun belum ada tindak lanjut penanganan. Bahkan, hingga kini pendonor tersebut belum tahu bahwa dirinya terinfeksi HIV/AIDS.
“Padahal, setiap bulannya PMI menemukan sekitar empat sampai lima darah pendonor yang reaktif HIV. Ketidaktahuan pendonor akan infeksi virus HIV membuat mereka terus mendonorkan darahnya. Bukan tidak mungkin, selama masa itu, mereka juga menularkan penyakitnya kepada keluarga atau orang lain,” ujar Saman.
PMI sendiri sebenarnya bisa menginformasikan hal ini kepada pendonor, namun, tentunya harus didahului permintaan dari pendonor. Sementara, citra masyarakat yang masih menganggap negatif ODHA, membuat mereka enggan berkonsultasi atau memeriksakan penyakitnya. Untuk memberikan rekomendasi kepada pemerintah mengenai perubahan kebijakan penanganan HIV/AIDS, pihaknya akan menggelar Lokakarya Nasional HIV/AIDS dan Manajemennya, di UDTC PMI Kota Semarang, Sabtu (12/4) mendatang.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Ir Immanuel Drajat, berharap agar Pemkot Semarang segera menyikapi persoalan HIV/AID, khususnya di kalangan anak jalanan. Apalagi, mobilitas anak jalanan sangat sulit terjangkau.
“Di Kota Semarang sendiri keberadaan anak jalanan terhitung banyak. Baik yang tidur di emperan toko, taman, hingga pasarpasar, ” tandas dia.
Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, jumlah penderita AIDS pada tahun 2001 adalah empat orang, tahun 2002 enam orang, tahun 2003 dua belas orang, dan tahun 2004 tujuh belas orang.
Diperkirakan, jumlah penderita AIDS lebih besar dari data yang ada. Hal itu disebabkan karena gejala AIDS tidak langsung muncul ketika penderita terinfeksi virus HIV. Di Semarang, sekitar 1.700 orang diprediksi sudah tertular virus HIV. Lebih dari 33.000 orang berisiko tertular penyakit yang belum ada obatnya ini.
sumber kutipan
http://www.satudunia.net/node/2166




